Dua Jam di Atas Panggung, Seumur Hidup dalam Foto
Kamu ingat hari pertama MOS?
Keringetan, sepatu baru yang kegedean, nama teman sebangku aja belum hafal.
Lalu waktu jalan cepat sekali.
Tiba-tiba udah duduk di bangku kelas 9. Atau 12.
Tiba-tiba undangan wisuda udah ditempel di mading.
Tiba-tiba Ibu udah nanya, “Seragamnya udah siap, Nak?”
Wisuda itu aneh.
Acara paling formal sepanjang sekolah, tapi rasanya paling nggak siap kita hadapi. Bukan karena takut maju ke panggung. Tapi karena sadar: setelah ini, kita nggak akan pernah satu kelas lagi.
Dan di hari itu, semua orang pengen kelihatan “pantas”.
Bukan buat gaya. Tapi buat menghormati 3 tahun tawa, begadang ngerjain tugas, dan janji “ketemu lagi ya” yang nggak tau kapan.
*Toga Bukan Sekadar Kain Hitam*
Kalau dipikir, toga cuma kain. Dipake 2 jam. Habis itu dilipat, masuk kardus.
Tapi coba tanya kakak kelasmu yang udah wisuda tahun lalu. Tanya, bagian mana yang paling dia ingat?
Bukan sambutan kepala sekolah.
Bukan lagu Indonesia Raya.
Yang diingat:
_“Pas aku jalan ke panggung, Ibu di kursi undangan ngelap mata. Bapak angkat HP, tangannya gemeter.”_
_“Pas foto angkatan, kita sadar ini foto terakhir bareng-bareng sebelum semua nyebar.”_
Toga itu pembungkus momen.
Dia yang bikin langkahmu ke panggung jadi beda.
Dia yang bikin foto sama Ibu jadi lebih “resmi”.
Dia yang bikin kamu, yang biasanya pake seragam kusut, tiba-tiba kelihatan dewasa 5 tahun dalam sehari.
Jadi pertanyaannya bukan “perlu toga apa nggak?”
Tapi: *“Momen 2 jam itu mau kamu kenang kayak apa?”*
*Cerita Dinda, Kelas 9 SMP Negeri 3*
Dinda cerita ke aku bulan Juni kemarin.
Waktu gladi, toganya kebesaran. Lengannya nutupin setengah tangan. Topinya lemes, miring terus. Di foto gladi, dia paling pojok, nutupin muka karena malu.
“Kayak pake karung, Kak. Aku jadi nggak pede maju.”
H-1, wali kelasnya nekat hubungi temannya yang punya usaha sewa toga. Malam itu juga dituker. Dikirim toga yang pas, bahannya jatuh, topinya tegak. Nggak bayar lagi. “Udah, yang penting anak-anak senyum,” katanya.
Hari H, Dinda maju. Toga-nya pas di badan. Di foto, dia di tengah, ketawa lebar.
“Malamnya Ibu cetak foto 10R, dipajang di ruang tamu. Katanya, ‘Ini Dinda paling cantik seumur hidup Ibu.’”
Dinda nggak inget harga toganya.
Tapi dia inget kalimat Ibunya.
*Kalau Boleh Jujur...*
Nggak semua orang tua sanggup beli.
Harga toga baru Rp175 ribu - Rp250 ribu. Kalau anaknya tiga, wisudanya berdekatan, angkanya nggak manusiawi. Padahal dipakainya cuma sekali.
Nggak semua sekolah punya anggaran buat talangin. Kas sekolah juga buat banyak hal: LKS, renov toilet, bayar listrik.
Tapi semua orang tua dan semua sekolah, punya hak yang sama: *pengen anak-anak naik panggung dengan kepala tegak.*
Karena itu, di banyak kota, sekarang ada pilihan yang lebih waras.
Toga yang kualitasnya sama kayak beli, tapi cuma “dipinjam” 2 jam.
Habis acara dibalikin. Dicucikan. Dipakai lagi sama adik kelas tahun depan.
Lebih hemat. Lebih masuk akal. Dan jujur aja, lebih lestari.
Satu toga bisa jadi saksi 20 kali wisuda. 20 kali tangis haru.
Jadi uang yang hemat, bisa dialihin.
Buat bikin buku tahunan lebih tebal.
Buat traktir sekelas bakso habis wisuda.
Buat nyumbang ke adik kelas yang sepatunya bolong.
*Jadi, Apa yang Bikin Wisuda Berkesan?*
Bukan toganya.
Tapi kamu yang pakai toga itu.
Toga cuma bantu.
Bantu kamu nggak kepikiran “aduh lenganku kepanjangan” pas jalan ke panggung.
Bantu Ibu nggak bisik-bisik “kok topinya lemes ya, Nak” pas foto.
Bantu kamu fokus ke hal yang penting: peluk teman, salim ke guru, dan bilang “makasih” ke orang tua tanpa gangguan.
Karena 10 tahun lagi, kamu nggak akan buka album dan bilang, “Ini lho togaku mahal.”
Kamu bakal nunjuk foto dan bilang, “Ini hari aku lulus. Ini Ibu aku nangis. Ini gengku yang sekarang udah pada kerja di luar kota.”
*Dan kalau di foto itu kamu kelihatan gagah, tegak, dan senyumnya lepas...*
*Itu cukup.*
---
P.S.
Kalau sekolahmu lagi nyiapin wisuda dan bingung soal toga, ngobrol aja dulu sama wali kelas. Atau sama kakak OSIS angkatan lalu.
Biasanya mereka tau jalan tengah yang paling nggak bikin pusing.
Yang penting, jangan sampai 2 jam itu kepotong gara-gara hal teknis.
Sayang momennya. Sayang fotonya. Sayang senyum Ibu.
Posting Komentar untuk "Dua Jam di Atas Panggung, Seumur Hidup dalam Foto"