Postingan

Selamat Datang di Situs Resmi Kita Wisuda

Selamat Datang!

Kami ucapkan terima kasih karena telah mengunjungi website kami . Kita Wisuda merupakan sarana yang kami sediakan untuk menjalin hubungan ke mitraan dengan institusi maupun perusahaan A nda. Kami berharap website ini dapat membangun kepercayaan Anda kepada kami untuk bekerjasama saling menguntungkan kedepannya. Kita Wisuda me l ayani jasa konveksi baju toga, se l empang, dan pembuatan meda l i maupun plakat. Saat ini a l amat kami berada di dua kota, yaitu kota Purwokerto dan kota Cirebon. Sejauh ini kita te l ah menja l in kerjasama dengan beberapa universitas dan seko l ah, diantaranya :    Universitas Jendera l Soedirman Purwokerto; · SMA A l -Irsyad Purwokerto; · Universitas A l -Irsyad Ci l acap; · MTS Wathoniyah Japurabakti Cirebon; · Taman Kanak-Kanak AN-Nur Hidayah Cirebon; · Madrasah Diniyah AN-Nur Hidayah Cirebon ; · MTS NU Ma’arif Kranceng Purba l ingga, Dsb. Bentuk kerjasama tersebut berupa persewaan dan konveksi baju toga wisuda,

Bekerja Keraslah Sampai Kampusmu mengundang dirimu

Aku memasuki bangunan besar yang sangat familiar dan sudah sepuluh tahun lamanya tidak ku kunjungi. Tempat ini tidak banyak berubah, masih sama seperti sepuluh tahun yang lalu. Aku masih hafal seluk-beluk tempat ini, sampai ke sudutnya sekalipun. Mungkin karena saat ini masih jam kuliah, tidak terlalu banyak mahasiswa yang bercengkerama di lobby. Ya, tempat ini adalah universitas di mana aku menuntut ilmu sepuluh tahun yang lalu. Aku menekan tombol lift untuk menuju ke ruang auditorium. Sampai di sana, sudah ada beberapa orang berkerumun di depan ruangan. Kemudian aku dihampiri oleh salah satu mahasiswi yang memakai jaket BEM (Badan Eksekutif Mahasiswa) dan menyapaku dengan nada riang, “halo Mas Ricky, saya Lia. terima kasih sudah meluangkan waktunya untuk datang.” Aku pun diantar menuju ruangan tunggu yang berada di belakang ruang auditorium. Ruangan ini sudah jauh lebih rapi dibanding ketika zamanku dulu, ditambah beberapa hiasan estetik di sekitar ruangan. Selama menunggu, aku ditem

Ketika Wisuda Didukung orang-orang Tercinta

  Skripsi Salsa “Kalau bab lima kamu nggak beres-beres, berarti memang ada masalah di dalam skripsi kamu. Jalan terakhir cuma ada satu, kamu harus ganti judul dan ngulang dari awal!” Itu adalah ucapan paling horor yang baru aku dengar beberapa menit lalu, tepat setelah bangun tidur. Aku yang sedang berpura-pura menjadi ulat bulu di atas kasur, mendadak berubah menjadi buaya yang keras dan berbahaya.  Pak Budiman, beliaulah yang meneleponku berkenaan dengan skripsi. Aku memang belum memberikan revisian bab limaku kepadanya. Kukira, bab lima adalah bab paling mudah yang bisa kukerjakan kapan saja. Namun saat sudah selesai, malah banyak hal yang harus diubah. Tentu saja, revisian itu membuat aku bingung. Apa yang harus kutuliskan? Semua hal yang dia anjurkan sudah diselesaikan. Namun tetap saja, bab lima menjadi bab pamungkas dan paling lama mendapatkan ACC. Aku menggeliat dari atas kasur. Berbarengan dengan hal tersebut, ada ketukkan pintu di pintu kamar kosku.  Aku berjalan lemah, lanta

Faktor Keberuntungan, Benarkah?

Suatu ketika saya menonton pertandingan sepakbola tim favorit saya AC Milan, yang menurut saya bermain dengan baik melawan tim sekota Inter. Beberapa kali menyerang dan mendominasi pertandingan, namun tidak berhasil mencetak gol. Dan tim lawan hanya mendapat satu kali peluang kecil dan langsung gol bahkan keluar sebagai pemenang. Tidak adil, siapa yang menyerang siapa yang menang. Beberapa kali di pertandingan lain pun sama halnya, seperti semifinal liga Champions 2012 Barca vs Chelsea yang dimenangkan Chelsea. Padahal Barca sangat layak menang jika dilihat dari dominasinya. Pernahkah kamu berjuang keras demi cinta namun yang terjadi si wanita malah makin menjauh dan kamu bukannya dihargai tapi makin diinjak-injak?. Ironisnya, si wanita malah mendatangi pria yang seakan tidak berjuang sekeras kamu untuk cintanya, bahkan tidak melakukan apa-apa tapi dia yang mendapatkan cinta si wanita. Mungkin kamu juga pernah lihat temanmu terus melamar pekerjaan kesana-kemari tapi belum juga menuai h

Mengelola Kosakata yang Seharusnya

Banyak ungkapan lagi "in", trend, dan sering diungkapkan belakangan ini baik dunia nyata maupun maya. Kita makin lama makin akrab dengan istilah toxic, mindset, insecure, bucin, overthinking, dll, khususnya para generasi millenial. Mungkin kamu juga salah satu yang ikut memviralkan berbagai istilah tadi. Semakin sering kita menyebutnya, otak manusia biasanya otomatis akan merefleksikannya ke diri sendiri. Namun lebih parah, kita akhirnya sering membandingkan kehidupan kita dengan mereka yang seolah "sempurna" dan "bahagia", sedangkan kita??.. Nah biasanya dari sinilah masalah dimulai dengan segenap kosakata tadi. Bayangkan 2 studi kasus seperti ini, si Doni selalu iri ketika melihat teman circlenya lebih unggul dari dirinya. Ia melihat betapa kerennya si Agus. Relasi luas, kenalan orang besar, akademik cadas, pacar aduhai, bicaranya lugas dan cerdas, dll. Kemudian, Doni merasa sungguh termotivasi. Ia belajar luar biasa jedotin kepala sana-sini,. Yaph tujua

Cara Memperoleh Kehidupan Sebenarnya

Gambar
Berapa banyak orang yang mengartikan kebahagiaan?.. yaph sangat banyak. Semua memiliki versi bahagianya masing-masing. Namun belakangan ini saya menemukan pola lain yang mungkin semua orang sudah paham sih. Tapi sepertinya belum semua orang mengaplikasikan. Bahwa ternyata kita bisa membuat kedua pihak bahagia sekaligus dengan cara yang cukup sederhana. Suatu ketika saya mengunjungi sebuah toko perlengkapan bayi untuk memberi kado seorang teman yang sedang berbahagia atas kelahiran bayi pertamanya. Begitu saya datang, raut muka si penjaga toko terlihat bahagia terutama setelah saya melakukan pembelian. Hingga saya difoto bersama produknya dengan pose ala endorsemen (padahal bukan siapa-siapa) untuk bahan promo di kanal Instagram dan WA toko bayi tersebut. Setelah barang dipacking, dikirim dan sampai ke tangan penerima. Kebahagiaan serupa pun berlaku bagi teman saya. Ia berterima kasih, mendoakan, hingga kadonya dishare story di akun instagramnya, "Makasih banyak mas" katanya.

Everything Is Just a Phase, Sure?

Suatu hari si Bambang (bukan nama sebenarnya) fell like nobody.. Ia merasa segala aspek kehidupannya tidak berjalan baik and he completely lost the way. Meanwhile, si Beben (bukan nama sebenarnya) feel something powerfull.. Ia merasa segalanya berjalan dengan baik sesuai rencana. What a life! Banyak cerita tentang hidup orang-orang yang memiliki perbedaan mencolok. Ada orang sepuh 78 tahun yang hidup dari pensiunan dan sakit-sakitan, sementara Joe Biden malah jadi presiden Amerika Serikat di usia yang sama. Lalu, bagaimana fase yang sebenarnya terjadi diantara mereka? Berangkat dari cerita kontradiktif antara Bambang dan Beben tadi, apakah mungkin jika one day hidup mereka berkebalikan suddenly? Entah 5 tahun mendatang, 10 tahun mendatang atau 20 tahun mendatang? Yes, you know the answer. Sangat mungkin bahwa hidup mereka bisa berkebalikan, atau minimal si Bambang cukup bisa unggul dari si Beben dikemudian hari. Is that possible when it's just a phase?. Sebelum membahas lebih jauh.

Branding dulu, Branding lagi, Branding terus

Gambar
Dalam konteks bisnis, pengenalan suatu merek dan nama harus menjadi prioritas agar bisnis bisa berjalan. Tak kenal maka tak sayang, lah gimana mau beli kalau tahu bisnisnya aja ngga?. Kita belum dulu masuk keranah aktivitas periklanan yang hard selling, ataupun praktek online marketing yang lebih halus (convert selling) untuk promosi dan memperkenalkan diri. Saya sendiri sudah mempelajari dunia marketing semenjak 5 tahun terakhir ini. Dan sepertinya memang sudah menjadi passion yang pasti dilakukan setiap hari. Berangkat dari pembelajaran tersebut, ternyata hal terpenting (namun kadang dilupakan) adalah pemberian sebuah nama. Sebisa mungkin nama harus mudah diingat dan gampang diucapkan, bahkan lebih baik jika terdapat sebuah intonasi ketika menyebutnya. Bayangkan kita sudah habis-habisan membranding diri, namun hasilnya tidak sesuai ekspektasi, padahal sudah menghabiskan banyak waktu dan materi. Ternyata akar masalahnya adalah pemberian nama yang kurang tepat. Bukan semata praktek pro